Minggu, 10 Juni 2012

Bahan Aktif yang terkandung dalam Detergent

Deterjen sebatilan, atau campuran sebatian, yang digunakan dalam tugas pembersihan. Bahan utamanya ialah garam natrium bagi asid organik yang dinamakan asid sulfonik. Asid sulfonik yang digunakan dalam pembuatan deterjen merupakan molekul berantai panjang yang mengandung 12 hingga 18 atom karbon per molekul. Sebagai bahan pembersih lainnya, deterjen merupakan buah dari salah satu kemajuan teknologi yang memanfaatkan bahan kimia dari hasil samping penyulingan minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi. Sekitar 1960-an deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif  permukaan (surfaktan) alkyl benzene sulfonat (ABS) yang mampu menghasilkan busa. Namun karna sifat ABS yang sulit diurai oleh mikroorganisme dipermukaan tanah, akhirnya digantikan dengan senyawa linier alkyl sulfonat  (LAS) yang diyakini relatif lebih akrab dengan lingkungan.
Pada banyak negara di dunia penggunaan ABS telah dilarang dan digganti dengan LAS. Sedangkan di indonesia, peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan masih digunakannya ABS dalam produk  deterjen, antara lain karena harganya murah, kestabilannya dalam bentuk krim atau pasta dan busannya  melimpah.
Penggunaan sabun sebagai bahan pembersih yang dilarutkan dengan air di wilayah pegunungan atau daerah pemukiman bekas rawa sering tidak menghasilkan busa. Hal itu disebabkan oleh sifat sabun yang tidak akan menghasilkan busa jika dilarutkan dalam air sadah (air yang mengandung logam-logam tertentu atau kapur).  Namun penggunaan deterjen dengan air yang bersifat sadah, akan tetap mengghasilkan busa yang berlimpah. Sabun maupun deterjen yang dilarutkan dalam air pada proses pencucian, akan membentuk emulsi bersama kotoran yang akan terbuang saat dibilas. Namun ada pendapat keliru bahwa semakin melimpahnya busa air sabun akan membuat cucian menjadi lebih bersih. Busa dengan luas permukaannya yang besar memang bisa menyerap kotoran dan debu, tetapi dengan adanya surfaktan, pembersih sudah dapat dilakukan tanpa adanya busa.
Opini yang sengaja dibentuk bahwa busa yang melimpah menunjukan daya kerja deterjen adalah menyesatkan. Jadi, proses pencucian tidak bergantung ada atau tidaknya busa atau sedikit dan banyaknya busa yang dihasilkan. Kemampuan daya pembersih deterjen ini dapat ditingkatkan jika cucian dipanaskan karena adanya daya kerja enzim dan pemutih akan afektif. Tetapi, mencuci dengan air panas akan menyebabkan warna pakaian memudar. Jadi untuk pakaian berwarna sebaiknya jangan menggunakan air hangat dan panas. Pemakaian deterjen juga kerap menimbulkan persoalaan baru, terutama bagi pengguna yang memiki sifat sensitif. Pengguna deterjen dapat mengalami iritasi kulit, kulit gatal-gatal, ataupun kulit menjadi terasa lebih panas usai memakai deterjen. Maka dari itu kami meluncurkan CLEAN sebuah prodak deterjen yang  aman untuk kulit sensitif karna kita menggunakan bahan senyawa linier alkyl sulfonat (LAS) yang lebih ramah lingkungan. Prodak kami menghasilkan lebih sedikit busa namun tetap mempunyai kualitas yang sangat baik dalam menghilangkan noda pakaian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar